Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘review maryamah karpov’

Ditulis 7 November 2009

Akhirnya… akhirnya… Hari ini novel Maryamah Karpov(MP) tandas aku baca. Butuh seminggu lebih sedikit untuk melahap habis seri terakhir tatralogi Laskar Pelangi tersebut. Kok lama banget? Soalnya selama proses menyicil baca itu aku sempat sakit, jadi gak bisa nyicil selama beberapa hari. Aku juga sempat boyongan pindah kost segala. Makin ribet jadinya!

Dan kesimpulanku setelah selesai membacanya; Maryamah Karpov tidaklah terlalu buruk untuk menjadi penutup sebuah tetralogi. Novel ini tidak seburuk yang dikatakan di puluhan review yang kubaca sebelum memutuskan membeli MP.

Sebagaimana tiga novel sebelumnya, novel ini menurutku tetaplah novel berbobot. Detil-detilnya kaya informasi, analogi-analoginya masih tetap menggelikan memancing tawa. Andrea Hirata harus diakui ialah penulis yang lihai berpanjang-panjang lidah. Dia bisa mengembangkan cerita yang harusnya cuma satu alinea menjadi beralinea-alinea, bahkan berhalaman-halaman. Ini kelebihan, tapi juga sekaligus kelemahan. Bagi orang yang benar-benar gemar membaca, gaya menulis Andrea yg superdetil dan bercabang-cabang ini mungkin mengasyikan dan akan tetap dipelototi kata demi kata. Tapi bagi mereka yang minat bacanya pas-pasan, tulisan model begini justru bisa menjemukan. Terlampau bertele-tele. Saking bertele-telenya bahkan terkadang Andrea sampai menceritakan hal-hal yang menurutku sama sekali tidak penting. Meracau, kata orang melayu Kepri. Ambil contoh, lihat bagian-bagian dimana Andrea menceritakan bagaimana orang-orang di warung kopi bertaruh karena Ikal. Saking banyak dan detailnya, aku sampai malas menyimak bagian ini.

Bagi yang selama ini selalu penasaran apakah tetralogi Laskar Pelangi nyata atau tidak, bersiaplah utk semakin berkerut jidatnya membaca novel ini. Pembaca MP aku yakin mengangguk jika aku katakan novel ini terlalu berlebihan utk sebuah novel kisah nyata. Saranku buat para pengurus perpustakaan, janganlah sesekali meletakkan novel ini di rak buku-buku memoar atau biografi. Jangan! Sekali-kali jangan! Karena meskipun novel setebal 503 halaman ini konon berangkat dari pengalaman nyata, tapi unsur dramatisasi dan imajinasinya pun kental bukan main. Cukuplah bapak/ibu pengurus perpustakaan meletakkan novel ini di rak buku-buku sastra. Itu lebih layak baginya.

Atau kalau bapak/ibu pengurus perpustakaan hendak sedikit membuat sensasi, bolehlah meletakkan buku ini di antara deretan buku-buku teknik. Musababnya adalah karena novel ini rupanya sangatlah detil menjelaskan teknik membuat perahu. Sampai pusing kepala kami -pembaca setia tetralogi Laskar Pelangi- membaca istilah-istilah langka pembuatan kapal yang digelontorkan Bang Ikal dalam novel ini. Linggar, linggi, telebut,… Aih, tak lazim nian kata-kata itu di telinga kami, boi! Hehehe..(efek samping novel Andrea Hirata).

Semua orang yang telah selesai membaca MP pastinya akan bertanya-tanya kenapa gerangan novel ini berjudul Maryamah Karpov sementara isinya sama sekali tak ada menyinggung kehidupan Mak Cik Maryamah. Nama Mak Cik Maryamah yang jago bermain catur bak Karpov malah hanya disebut (kalau tak salah) di dua kalimat saja. Tak lebih. Lantas mengapa novel ini tetap diberi judul Maryamah Karpov kalau nggak nyambung sama isinya?? Bisa jadi ini keteledoran Bang Andrea yang terlalu dini menggembar-gemborkan judul novel terbarunya sebelum dia selesai menulisnya. Ujung-ujungnya ya gitu, judul jadi sangat tidak nyambung dengan isi. Aku yakin Bang Andrea akan lebih senang jika novel ini berjudul “Mimpi-Mimpi Lintang”. Iya kan, bang??!! (Sok Tahu Mode: ON)

Bagaimanapun, patutlah kiranya rasa salut kuhaturkan untuk Abang Andrea yang telah memperkaya khazanah sastra Indonesia dengan karya-karyanya yang kental nuansa budaya melayu. Kita orang sebagai sesama budak melayu tak bisa dipungkiri bangga dibuatnya. Bravo Ikal! ^_^

Read Full Post »