Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘padang bulan’

Semula kupikir dwilogi Padang Bulan karya terbaru Andrea Hirata terdiri dari dua buah buku – sebagaimana Tetralogi Laskar Pelangi terdiri dari empat buku. Nyatanya kusalah. Dwilogi Padang Bulan adalah dua buah novel yang terangkum dalam satu buku. Alhamdulillah, tak perlu dua kali ngeluarin duit buat beli buku. 😛

Novel pertama, berjudul Padang Bulan, setebal 254 halaman. Novel kedua, berjudul Cinta Di Dalam Gelas, 270 halaman, diletakkan di belakang novel pertama dengan posisi bertolak belakang terbalik. Jadi, dilihat dari depan maupun belakang, tetap tampak sebagai cover depan.

Novel Padang Bulan dibuka Bang Andrea dengan amat sederhana, namun tetap apik dan memikat. Dikisahkannya tentang keluarga Zamzami – Syalimah yang hidup bersahaja dengan empat orang anak. Suatu hari, di luar kebiasaan, Zamzani berniat memberi kejutan buat Syalimah. Kejutan istimewa itu berupa sebuah sepeda baru. Ya, sepeda baru Sim King made in China. Hati Syalimah pun riang tak terperi.

Sayang, hati riang itu sekejap saja dikecap. Zamzani meninggal di hari yang sama dengan hari di mana dia memberi kejutan. Kebetulan yang menyakitkan. Ditinggal sang kepala kelurga, keluarga Syalimah limbung. Enong, si anak tertua, merasa bertanggung jawab atas nasib keluarganya. Maka sejak itu, tampuk tanggung jawab dipindahkan Enong ke pundaknya. Enong yang masih duduk di kelas 6 SD harus menguat-nguatkan diri menjadi pengganti ayahnya sebagai pencari nafkah. Enong memilih putus sekolah, kemudian menjadi pendulang timah. Ah, pokoknya mengharu biru!

Cerita sedih Enong ini, diselang-selingi dengan kisah hidup si penulis novel sendiri, yang didalam novel mewujud dalam tokoh Ikal. Ikal adalah juga tokoh utama di tetralogi Laskar Pelangi.

Di Padang Bulan, Ikal curhat tentang perasaannya pada Ling Ling, sang pujaan hati yang entah kapan akan ia nikahi. Suatu saat, beredar kabar Ling Ling berboncengan sepeda dengan seorang pria lain. Ikal pun terbakar cemburu. Bermacam cara Ikal lakukan untuk mencari tahu siapa pria yang tak tahu sopan santun itu untuk membuktikan bahwa dialah yang paling pantas buat Ling Ling. Ikal akhirnya tahu siapa pria itu. Zinar namanya. Sayang beribu sayang Zinar ternyata ganteng, tinggi semampai, multi talenta, dan berkharisma. Bertolak belakang bak bumi dan langit dengan Ikal. Lantas, berhasilkah Ikal mempertahankan Ling Ling?

Begitulah, novel Padang Bulan disusun oleh dua alur kisah; semangat juang Enong dan kisah getir percintaan Ikal. Di pertengahan novel akan ada momentum di mana Ikal bertemu dengan Enong dan kemudian berteman. Sejak itu pula Enong banyak memberikan inspirasi pada Ikal. Dan novel ini ditutup begitu saja dengan mudahnya oleh fakta bahwa Ikal sebenarnya hanya cemburu buta pada Ling Ling dan Zinar.

***

Novel kedua, Cinta Di Dalam Gelas, menurutku lebih greget dibanding novel pertama. Jangan sekali-kali mencoba membaca dwilogi ini mulai dari novel kedua, kalau tak mau bingung sendiri, karena kisah di novel kedua merujuk pada novel pertama.

Di novel kedua ini, tokoh utamanya adalah Maryamah Binti Zamzami yang kelak bergelar Maryamah Karpov lantaran kepiawaiannya bermain catur. Dan tahukah kau kawan, Maryamah ini tak lain tak bukan adalah Enong, si perempuan mengharu biru di novel pertama.

Di Cinta Di Dalam Gelas, Maryamah sudah menjadi wanita dewasa. Karakternya tetap: Tangguh nan tak kenal menyerah. Dia juga sudah menikah, namun pernikahannya kandas karena kesemena-menaan sang suami, Matarom. Maryamah pun bertekad untuk membalas dendam. Membalas kesemena-menaan yang diperbuat Matarom dengan mempermalukannya di depan majelis warung kopi. Caranya? Dengan mengalahkan Matarom main catur! Padahal Matarom adalah kampiun catur seantero kampung sekaligus juara bertahan catur 17 belasan dua kali berturut-turut. Sedangkan Maryamah, jangankan lihai main catur, mampir di warung kopi pun dia hampir tak pernah (warung kopi = satu-satunya tempat bermain catur).

Berhasilkah Maryamah mengalahkan Matarom? Segera dapatkan bukunya di perpustakaan toko buku terdekat ^^

***

Cinta Di Dalam Gelas menurutku lebih baik dibanding Padang Bulan. Selain lebih kocak, intrik dan konfliknya lebih kuat dibanding novel pertama. Aku yakin Bang Andrea juga lebih sulit menulis novel kedua daripada novel pertama, dikarenakan untuk menulis novel kedua butuh riset sosial dan kultural yang mendalam mengenai kopi dan catur. Bukan begitu Bang Andrea?

Dan harap kau camkan baik-baik wahai rekan pembaca, Cinta Di Dalam Gelas inilah sesungguhnya yang lebih pantas diberi tajuk ‘Maryamah Karpov’ daripada Maryamah Karpov abal-abal, Seri ke-4 Tetralogi Laskar Pelangi. Bang Andrea kuyakin pasti mengangguk setuju. 😉

Bicara bahasa, harus kuakui kemampuan menulis Bang Andrea yang luar biasa. Membaca karya-karya Bang Andrea, aku bisa merasakan betapa cantik dan manisnya bahasa melayu (atau bahasa Indonesia). Diksinya genit, metaforanya menggigit. Dan sebagaimana yang disebutkan di dalam novel, Andrea Hirata memang memiliki gaya tulis yang khas; menertawakan kepedihan, memarodikan tragedi, mengkritik tanpa menjadi sarkastik. Aku tak yakin gaya tulis khas ini akan tetap terasa jika novelnya di-alihbahasa-kan, mengingat keempat seri Tetralogi Laskar pelangi telah terjemahkan ke bahasa inggris.

Beli deh! Cukup sisihkan uang Rp.100.000. Mahal bener? 70 ribu buat beli novel ini, 30 ribu lagi disisihkan buat infaq dan sodaqoh. Insyaallah menghibur di dunia, bermanfaat di akhirat. Empat jempol buat Bang Andrea! 🙂

Read Full Post »