Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘blasteran suku’

“Kamu orang mana?”

Pertanyaan di atas selalu sulit untuk saya jawab dengan sederhana. Soalan yang dimaksudkan untuk menanyakan suku itu tidak mudah lantaran saya tidak tahu saya suku apa. Bapak dan emak saya beda suku, saya lahir di kampungnya suku lain, dan dibesarkan di kampung suku lain lagi. Riweuh.

Bapak saya orang ambon. Emak asli gorontalo. Keduanya bertemu di Jayapura, menikah di sana, hingga akhirnya lahirlah saya di ibu kota provinsi Papua tersebut.

Belum genap umur setahun saya diboyong berpindah-pindah kota. Ke Ambon, Gorontalo, Jakarta, hingga akhirnya ke Batam. Dari umur tiga tahun sampai lulus SMA saya menetap di kota industri ini.

Jadi orang manakah saya?

Belum selesai di situ. Thing becomes more complicated ketika diketahui bapak saya ternyata tidak murni berdarah ambon. Meski bapak dan kakek lahir di ambon, tetapi leluhur mereka aslinya berasal dari Sulawesi Tenggara. Itulah sebabnya ada fam Kaimudin di belakang nama saya.

Jadi.. Orang manakah saya? Orang ambon? Gorontalo? Jayapura? Sulawesi Tenggara? Atau Batam?

Karena geje suku apa, maka jawaban saya biasanya bergantung siapa yang bertanya, atau sikonnya seperti apa. Sebisa mungkin jawaban saya membangun proximity(kedekatan) dengan si penanya. Kalau yang nanya kebetulan orang melayu, saya bilang saya orang Batam. Kalau yang nanya orang sulawesi, saya bilang saya orang gorontalo. Bahkan kalo yang nanya orang jawa, saya bilang aja saya orang Surabaya. Toh pernah kuliah lama di sana. 😀

Intinya, pertanyaan orang mana ini dibuat simple dan fun aja. Lagipula pertanyaan begini cuma muncul di lingkungan informal, biasanya buat basa-basi sama orang yang baru kenal. Selama tidak bermaksud rasis, saya jawab dengan senang hati. 🙂

Yang agak mengganjal, dalam sensus penduduk tahun 2010, pertanyaan soal etnis rupanya dimasukkan dalam lembar sensus. Saya sampai kelabakan menjawab pertanyaan soal etnisitas tiap-tiap anggota keluarga saya. Demi apa coba etnisitas ada dalam sensus penduduk nasional? Emang kalau saya suku X kenapa? Atau kalau saya beretnis Y so what?

Mengingat Indonesia adalah bangsa yang amat plural, dan pernikahan lintas etnis telah menjadi hal yang amaaat lumrah, harusnya pertanyaan soal etnis/suku dihindari.

E tapi Indonesia masih mendingan lho daripada Singapura. Temen saya yang WN singapura, di KTP-nya dia tertera race: boyan. Menunjukkan kalau dia beretnis boyan/bawean yang berasal dari Pulau Bawean, Jawa Timur.

Mm.. Bangga sih karena berarti banyak orang singapura yang keturunan Indonesia. Tapi.. tidakkah itu mengarah ke rasisme? cmiiw. (ˇ_ˇ)

Read Full Post »