Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Review Film’ Category

Ini adalah film ketiga yang saya tonton di bioskop dalam beberapa hari terakhir. Setelah The Hunger Games & The Raid, kini giliran sebuah film animasi hollywood berjudul Dr. Seuss’ The Lorax.

Saya sebenarnya termasuk penyuka film animasi hollywood walaupun tidak addict banget. Beberapa film animasi terakhir yang saya tonton di bioskop di antaranya How to Train Your Dragon & Toy Story 3, dan saya suka! Tapi entah kenapa nonton The Lorax ini terasa biasa saja. Tidak istimewa.

Yang berkesan hanyalah pesan utama yang hendak disampaikan film ini, yakni bahwa manusia hendaknya mencintai pepohonan dengan tidak menebangnya. Karena pohon merupakah penghasil udara segar. Kalau pohon tidak ada, bisa-bisa udara segar saja kita perlu beli.

Yah, semacam menyindir aksi pengrusakan lingkungan hidup yang saat ini terjadi. Pembukaan lahan, pembabatan hutan tropis, seolah acuh terhadap dampaknya yang bisa timbul di masa depan.

Kesimpulan:

Dr. Seuss’ The Lorax tidak terlalu penting untuk ditonton, baik oleh anak-anak maupun dewasa.

Dan kalau teman-teman mau nonton film animasi di bioskop, tidak ada salahnya merujuk terlebih dahulu pada rating film animasi di IMDB. Kalau ratingnya bagus (8 ke atas) insyaallah filmnya emang asli bagus, dan layak tonton di bioskop.

Read Full Post »

Di tengah hingar-bingar kehebohan film The Raid, akhirnya tadi siang saya nonton film ini di 21 Nagoya Hill, Batam.

Dan seperti yang semua orang bilang, film ini memang bagus. Iya, beneran bagus!

Apanya yang bagus? Yang bagus adalah aksi laga para tokohnya. Alur cerita boleh sangat sederhana, tapi actionnya bung, beugh asli keren.

The Raid dimulai dengan aksi tembak-tembakan antara polisi dan penjahat ala film Hollywood, tapi sesungguhnya ‘pesona’ film ini baru dimulai ketika para tokohnya mulai kehabisan peluru dan mulai bertarung dengan tangan kosong, pisau atau pedang. Yap, The Raid lebih banyak berdialog melalui pukulan, tendangan, kuncian ataupun bantingan. Seru!

Iko Uwais yang berperan sebagai tokoh utama, Rama, benar-benar mengexplore habis kemampuan beladiri silatnya di film ini. Dan tentu penonton akan selalu ingat peran kang Yayan Ruhiyan yang mirip Ki Joko Bodo di film The Raid. Kebagian peran tokoh ‘Mad Dog’ yang lebih suka bertarung dengan tangan kosong daripada bersenjata, bikin Kang Yayan tampil bener-bener Laki’! πŸ˜€

*****

Berikut beberapa evidences bahwa film The Raid ini bagus, yang saya ambil dari pelbagai sumber:

# Hanya dua hari setelah dirilis pada hari kamis(23/3), The Raid telah meraup 120.694 penonton. Starting yang amat bagus untuk sebuah film Indonesia.

# The Raid adalah film Indonesia pertama yang ditayangkan serentak di Indonesia, Australia, Kanada dan Amerika Serikat.

# The Raid telah meraih sejumlah penghargaan di festival film internasional, antara lain menyabet penghargaan tertinggi ‘The Cadillac People’s Choice Award’ dalam Toronto International Film Festival (TIIF) Mei 2011.

# Ketika baru rilis, The Raid sempat menjadi trending topic twitter di Los Angeles, Amerika Serikat.

# The Raid adalah film asli Indonesia. Unsur bule cuma terdapat pada sang sutradara Gareth Evans dan seorang DOP (Director of Photography).

Jadi, setelah semua review bilang film ini bagus, apalagi yang membuatmu menunggu?

Read Full Post »

Tadinya film ini cuma jadi ‘pelarian’ saya gegara THE RAID tinggal tersisa kursi deretan paling depan. Tak disangka, THE HUNGER GAMES ternyata bagus! Nggak nyesel milih film ini. πŸ˜€

Pernah dengar tentang film Battle Royale? Yaitu film tentang sekelompok muda-mudi yang berkompetisi menjadi yang terbaik dengan cara bunuh-bunuhan. Saya juga tidak pernah nonton sih, cuma pernah diceritain sama teman. Nah, The Hunger Games ini punya garis besar cerita yang mirip dengan Battle Royale.

Jadi ceritanya di sebuah negeri masa depan bernama Panem, terdapat sebuah pertandingan resmi nasional yang disebut “The Hunger Games”. Tahun ini pertandingan tersebut telah memasuki season ke-74. Yap, The Hunger Games telah menjadi annual event yang dilaksanakan turun temurun.

Dalam pertandingan tersebut akan bersaing 24 orang tribute (peserta The Hunger Games) yang berasal dari 12 distrik di negeri Panem. Mereka harus bersaing agar menjadi satu-satunya orang yang bertahan hidup. Caranya agar menjadi satu-satunya yang bertahan hidup? Tentu dengan membunuh peserta-peserta lain. Eh jadi teringat Gladiator

Dari distrik 12 terpilihlah sepasang muda-mudi; Katniss Everdeen(Jennifer Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson). Katniss yang jago memanahini mengajukan diri menggantikan adiknya yang terpilih lewat undian.

Mereka berdua pun menuju ke ibukota Capitol, tempat games dilaksanakan. Dan oh my, di era modern tersebut, pertandingan nasional seperti The Hunger Games ini menjadi tak ubahnya sebuah acara reality show di televisi nasional. Mirip-mirip American Idol.

Apanya yang mirip? Yaitu fakta bahwa banyak realita dalam The Hunger Games yang tak tampil apa adanya lagi, sudah dibelokkan demi memuaskan para penonton yang haus akan kisah-kisah dramatis, mencengangkan dan membanggakan.

Pertandingan The Hunger Games hanyalah ajang tontonan tahunan layaknya American Idol, dengan mereka yang terpilih sebagai Tribute harus bersaing terlihat paling unggul satu sama lain. Setiap peserta harus dapat mencuri hati penonton, dan bahkan sebagian mesti menjual cerita demi pencitraan guna memenangkan sponsor dan terus bertahan.

Menurut saya, ini benang merah yang menarik. The Hunger Games seperti hendak menyindir reality show-reality show dewasa ini yang kebanyakan tampil lebay. Menjual cerita, menjual sosok dan figur tertentu agar jadi yang paling depan, itu sudah bahan utamanya reality show TV dunia, termasuk Indonesia.

Sementara itu, perjuangan 24 tribute di arena Hunger Games sendiri tampil amat seru, dan di saat bersamaan mengharu biru. Yang mengharukan misalnya tentang pertemanan dua tribute; Katniss dan Rue di arena The Hunger Games, yang berakhir dengan terbunuhnya Rue.

Tensi cerita terus terjaga sepanjang film, membuat film sepanjang 2 jam lebih ini tak terasa membosankan sama sekali. Dan karena filmnya panjang, pipis dulu ya sebelum masuk studio, supaya nggak ketinggalan cerita. πŸ™‚

Dah ah segitu aja reviewnya. Mumpung masih ada di bioskop, sile ditonton..

Read Full Post »

Film yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Per hariΒ Paranormal Activity 3 (PA3)Β ini tayang di XXI Batam.

Alasan saya menunggu-menunggu film ini ada dua:

1. Saya suka banget film horror

2. Saya terlanjur ngikutin dua seri sebelumnya yang menurut saya bagus.

Dan PA3 ini menurut saya juga bagus. Yang mau nonton, alangkah baiknya tonton dulu film sebelumnya Paranormal Activity 2, karena kedua film tersebut ternyata saling berkait satu sama lain. PA 3 menceritakan masa kecil Katie dan Kristie, sementara PA 2 menceritakan masa dewasa keduanya.

Just like PA 2, di PA 3 kita hanya akan menyaksikan rekaman-rekaman video, yang kali ini direkam oleh Dennis pada bulan September 1988. Dennis adalah pacar Julie , janda dengan dua orang putri kecil: Katie dan Kristie.

Dennis merasakan ada yang janggal di rumah baru Julie. Kemudian dia memutuskan meletakkan beberapa kamera di dalam rumah. Apa yang terekam di kamera tersebutlah yang akan tonton, dan bolak-balik mengagetkan kita selama 83 menit. Yang punya sakit ayan atau jantung dilarang keras nonton film ini ya..

Ending PA3 nggantung. Geje. Khas film horror bule. Tapi yang udah nonton PA 2 pasti menganggap endingnya ‘normal’, dan bisa memaklumi.

Hikmah yang bisa dipetik dari PA3; berhatilah-hatilah dalam mencari pasangan hidup. Jangan sampai bernasib seperti Dennis, menjadi tumbal keluarga Julie yang kaya raya hasil dari pesugihan. Hiii…

Mudah-mudahn gak spoiler. Happy watching! πŸ™‚

Lihat trailernya di sini

Read Full Post »

Menyambut peringatan 7 tahun tsunami aceh pada hari ini 26 desember 2011, sebuah film keluarga berlatar belakang tsunami aceh tayang di bioskop-bioskop indonesia. Judulnya Hafalan Shalat Delisa (HSD). Diangkat dari novel berjudul sama karangan Tere Liye.

Dulu saya nggak selesai baca novel Hafalan Shalat Delisa. Kata orang-orang sih novelnya bagus, tapi karena baca beberapa halaman awal saja sudah tidak tertarik, nggak saya lanjutin baca. πŸ˜› Tak disangka sekarang novelnya malah diangkat jadi film. Alhamdulillah yah gak perlu cape-cape baca novelnya. πŸ˜€

HSD berkisah tentang sebuah keluarga bahagia di Lhok Nga, Aceh. Anak terkecil dalam keluarga tersebut, Delisa(Chantiq Schagerl), mengalami kesulitan dalam menghafal bacaan shalat. Padahal ujian praktek shalat di sekolah sudah semakin dekat. Di Aceh praktek shalat adalah palajaran penting, sampai-sampai para orang tua bela-belain mengantarkan anaknya saat ujian.

Delisa yang sulit menghafal dimotivasi oleh Umi (Nirina Zubir) dengan membelikannya sebuah kalung emas berliontin huruf D. Namanya keluarga, ada cemburu-cemburuan. Aisyah, satu dari tiga kakak perempuan Delisa, iri pada Delisa yang dibelikan kalung berliontin huruf D, sementara kalungnya saat hafal bacaan shalat dulu tidak ada liontinnya. Kecemburuan Aisyah makin menjadi ketika tahu Delisa akan dibelikan sebuah sepeda baru oleh Abi.

Aisyah menangis terisak-isak di jendela rumah mereka yang menghadap ke pantai. Beruntung Aisyah memiliki Umi yang penyabar dan penuh cinta kasih. Sedikit saja dirayu, Aisyah luluh. Rasa cemburu serta merta hilang dari hatinya. What a perfect family, right? πŸ™‚

Hari ujian praktek shalat Delisa pun tiba. 26 Desember 2004. Tepat saat Delisa akan diantar Umi ke sekolah, gempa bumi mengguncang Lhok Nga. Dan tak lama setelah itu, saat Delisa sedang melaksanakan praktek shalat di sekolah, terjadilah musibah yang maha dahsyat tsunami aceh 26 Desember 2004.

Sampai di sini air mata saya mulai menetes. HSD memang tidak memvisualisasikan tsunami aceh seperti film-film hollywood, tapi bener deh, dengan cara yang sederhana HSD berhasil menyentuh hati kita. Adegan porak poranda tsunami diganti dengan adegan mimpi Delisa yang bersedih hati ditinggal kakak-kakaknya ke suatu pintu gerbang. Tak hanya kakak-kakaknya, semua teman Delisa juga pergi menuju gerbang yang sama, gerbang yang tampaknya dimaksudkan sebagai gerbang surga. Hanya Delisa yang tak diperkenakan ikut karena belum menyelesaikan hafalan shalatnya…

Sementara itu, Abi Usman(Reza Rahardian) yang mendengar kabar tsunami di kampung halamannya langsung bertolak pulang ke Aceh. Betapa hancur lebur hati Abi ketika sampai di Lhok Nga. Rumah mungil yang dihuni istri dan anak-anaknya telah rata dengan tanah tersapu tsunami. Seluruh anggota keluarganya pun, termasuk Delisa, belum ditemukan. Pas adegan ini nih, ane nangis lagi gan. 😦 Abis aktingnya Reza Rahardian keren banget. Bikin iba.

Pada penghujung kisah nanti alhamdulillah yah Abi rupanya bisa bertemu kembali dengan Delisa. Delisa adalah satu-satunya angota keluarga Abi yang berhasil selamat. Keduanya kemudian mencoba membentuk kembali harmoni cinta keluarga yang direnggut musibah tsunami. Susah payah mereka membangun rasa ikhlas atas musibah yang diberikan Allah, dan membuang jauh-jauh rasa berputus asa dari kasih sayang Allah.

***

Well, meski secara teknis film ini jeleeeeeeeeeeeekkk buanget (tonton sendiri kalau mau tahu), tapi banyak pesan moral yang bisa kita petik dari film ini. Filmnya tertolong sama cerita novelnya yang memang sarat nilai.

Anda-anda yang punya anak silakan menonton film ini bersama anak-anak anda, supaya mereka makin paham betapa bernilainya arti keluarga dalam kehidupan mereka. Insyaallah kalau mereka khusyuk nontonnya, selesai nonton mereka akan bilang gini;

” Abi/Umi, Saya cinta Abi/Umi karena Allah..”

Dalem.. πŸ™‚

NB:
Lihat trailer HSD di sini
Dengar OST HSD yang menyayat hati di sini

Read Full Post »